Manga Kimetsu no Yaiba 190 Menampilkan Perjuangan Heroik Para Hashira

Manga Kimetsu no Yaiba 190 Menampilkan Perjuangan Heroik Para Hashira

Smallest Font
Largest Font

Para penggemar setia karya Koyoharu Gotouge tentu masih teringat betapa mencekamnya suasana dalam manga Kimetsu no Yaiba 190. Di chapter ini, pertarungan melawan Raja Iblis, Muzan Kibutsuji, mencapai puncak ketegangan yang luar biasa. Saat fajar hampir menyingsing, para pemburu iblis yang tersisa harus mengerahkan segala kemampuan mereka, bahkan melampaui batas fisik manusia, demi menghentikan ancaman yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Fokus utama pada bab ini bukan hanya pada kekuatan fisik, melainkan pada tekad dan koordinasi yang apik antar karakter yang sudah sangat kelelahan.

Chapter bertajuk "Satu Demi Satu" ini memberikan sorotan besar kepada Obanai Iguro, Sang Hashira Ular. Setelah mendapatkan instruksi dan bantuan dari rekan-rekannya, Obanai menyadari bahwa kunci untuk menghambat regenerasi instan Muzan terletak pada suhu pedang. Melalui tekanan fisik yang ekstrem, ia berhasil mengubah warna bilah pedangnya menjadi merah membara, sebuah fenomena yang sebelumnya hanya dikuasai oleh pemburu iblis legendaris. Inilah momen yang mengubah arah pertempuran di manga Kimetsu no Yaiba 190, memberikan harapan baru di tengah keputusasaan yang melanda pasukan pemburu iblis.

Obanai Iguro membangkitkan Pedang Merah Nichirin
Visualisasi transformasi pedang Nichirin milik Obanai menjadi merah karena tekanan ekstrem.

Titik Balik Pertempuran di Chapter 190

Memasuki inti dari chapter ini, kita melihat betapa krusialnya peran kerja sama tim. Meskipun para Hashira seperti Gyomei Himejima, Sanemi Shinazugawa, dan Giyuu Tomioka sudah berada di ambang batas kekuatan mereka, munculnya bantuan tak terduga memberikan napas baru. Strategi yang disusun secara spontan namun efektif menjadi daya tarik utama. Kita melihat bagaimana teknik pernapasan masing-masing karakter saling mengisi kekosongan pertahanan yang ditinggalkan oleh rekan lainnya.

Kejutan terbesar muncul ketika serangan-serangan tak terlihat mulai menghujam Muzan. Rupanya, Inosuke Hashibira, Zenitsu Agatsuma, dan Kanao Tsuyuri telah bergabung dalam pertempuran dengan menggunakan jimat kertas milik Yushiro. Jimat ini memungkinkan mereka untuk menyembunyikan keberadaan mereka dari pandangan Muzan, sekaligus memberikan koordinasi visual yang lebih baik di medan perang. Integrasi antara kekuatan fisik para Hashira dan bantuan teknis dari sekutu non-Hashira ini membuktikan bahwa kemenangan melawan entitas sekuat Muzan tidak bisa diraih secara individual.

Mekanisme Pedang Merah Nichirin yang Mematikan

Salah satu aspek teknis yang paling banyak didiskusikan dalam manga Kimetsu no Yaiba 190 adalah bagaimana pedang Nichirin berubah menjadi merah. Berdasarkan penjelasan tersirat dalam cerita, perubahan warna ini terjadi akibat peningkatan suhu yang sangat drastis pada bilah pedang. Panas ini dihasilkan dari genggaman tangan yang luar biasa kuat atau benturan antar senjata dengan kekuatan penuh. Efek dari pedang merah ini sangat destruktif bagi iblis, karena mampu menghambat regenerasi seluler mereka, sebuah kemampuan yang selama ini menjadi keunggulan mutlak Muzan.

KarakterKontribusi UtamaStatus Senjata
Obanai IguroMemicu pedang merah pertama kali di chapter iniMerah Membara
Gyomei HimejimaMemberikan tekanan berat pada tubuh MuzanNormal (Ditingkatkan)
Sanemi ShinazugawaMenyerang dari sudut buta dengan agresi tinggiNormal (Ditingkatkan)
Giyuu TomiokaMempertahankan ritme pertahanan dan seranganNormal (Ditingkatkan)
Inosuke & ZenitsuMenyerang secara diam-diam menggunakan jimat YushiroNormal

Penggunaan pedang merah ini memiliki risiko yang sangat besar bagi penggunanya. Obanai hampir kehilangan kesadaran karena sirkulasi oksigennya terganggu akibat tekanan yang ia berikan pada pedangnya sendiri. Hal ini menunjukkan aspek high-risk high-reward yang sering diangkat oleh Koyoharu Gotouge dalam narasi Demon Slayer. Keberhasilan Obanai kemudian memicu Hashira lainnya, seperti Sanemi dan Giyuu, untuk mencoba melakukan hal yang sama dengan membenturkan pedang mereka satu sama lain.

Pertarungan Hashira melawan Muzan Kibutsuji
Pertempuran sengit antara sisa-sisa pasukan pemburu iblis melawan Raja Iblis Muzan.

Strategi Siluman dan Peran Yushiro

Kehadiran Inosuke, Zenitsu, dan Kanao yang menggunakan jimat Yushiro memberikan elemen kejutan yang sangat dibutuhkan. Muzan, yang biasanya mampu memprediksi setiap gerakan lawan melalui sensor instingnya yang tajam, dibuat bingung oleh serangan yang datang dari udara kosong. Jimat tersebut bukan hanya sekadar alat untuk menghilang, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung persepsi antar petarung. Ini adalah contoh luar biasa dari pemanfaatan Blood Demon Art milik iblis baik (Yushiro) untuk membantu manusia.

"Kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa kuat kau memukul sendirian, tapi seberapa mampu kau bertahan untuk memberikan kesempatan bagi orang lain untuk memukul lebih keras." - Interpretasi filosofi pertempuran Hashira.

Di manga Kimetsu no Yaiba 190, kita juga melihat betapa frustrasinya Muzan. Untuk pertama kalinya, sang Raja Iblis merasa terpojok bukan hanya oleh kekuatan murni, tetapi oleh kegigihan manusia yang ia anggap sebagai serangga. Emosi Muzan mulai tidak stabil, yang terlihat dari serangan-serangannya yang semakin membabi buta namun kurang presisi. Kondisi psikologis lawan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para pemburu iblis untuk terus menekan hingga detik-detik terakhir sebelum matahari terbit.

Dampak Psikologis pada Para Pemburu Iblis

Melihat Obanai berhasil membangkitkan kekuatan pedang merah memberikan dorongan moral yang masif bagi seluruh pasukan. Dalam situasi perang yang melelahkan, harapan adalah komoditas yang paling berharga. Sanemi Shinazugawa, yang biasanya sangat egois dalam bertarung, mulai menunjukkan rasa percaya kepada rekan-rekannya. Kerja sama antara Sanemi dan Giyuu untuk saling membenturkan pedang demi mencapai efek panas merah adalah simbol dari rekonsiliasi dan tujuan bersama yang melampaui dendam pribadi.

Sanemi dan Giyu membenturkan pedang Nichirin
Momen ikonik di mana Sanemi dan Giyu bekerja sama demi mengaktifkan pedang merah.

Analisis Teknis Narasi Koyoharu Gotouge

Secara naratif, manga Kimetsu no Yaiba 190 berfungsi sebagai akselerator alur menuju konklusi cerita. Penulis tidak membiarkan pembaca bernapas lega; setiap panel diisi dengan aksi yang padat dan dialog yang minimal namun bermakna. Penggunaan teknik visual storytelling di mana kita melihat detail urat-urat tangan Obanai yang menonjol memberikan dampak emosional yang lebih kuat daripada sekadar penjelasan narasi teks. Hal ini membuktikan kualitas E-E-A-T (Expertise, Authoritativeness, Trust) Gotouge dalam membangun ketegangan komik aksi.

  • Efek Visual: Penggambaran api dan efek pedang merah yang kontras dengan kegelapan malam.
  • Tempo Cerita: Alur yang cepat namun memberikan ruang bagi perkembangan karakter kecil.
  • Konsistensi Kekuatan: Kenaikan kekuatan karakter tetap memiliki konsekuensi fisik yang masuk akal.
  • Simbolisme: Fajar yang mendekat melambangkan berakhirnya era kegelapan iblis.

Penting untuk dicatat bahwa kemenangan dalam chapter ini belumlah final. Muzan masih memiliki cadangan kekuatan yang belum terungkap sepenuhnya. Namun, langkah-langkah kecil seperti menghambat regenerasinya adalah fondasi utama bagi kemenangan Tanjiro nantinya. Kehadiran para Hashira di garis depan memastikan bahwa beban yang dipikul Tanjiro tidaklah sendirian, sebuah tema sentral yang terus diulang sepanjang seri ini.

Akankah Strategi Ini Cukup Mengalahkan Muzan?

Vonis akhir untuk chapter ini adalah sebuah mahakarya taktis. Keberhasilan para Hashira mengubah warna pedang mereka di manga Kimetsu no Yaiba 190 bukan sekadar power-up instan, melainkan hasil dari akumulasi penderitaan dan tekad yang sudah mencapai puncaknya. Rekomendasi bagi para pembaca adalah untuk memperhatikan detail kecil pada jimat Yushiro dan bagaimana koordinasi serangan dilakukan, karena hal tersebut akan menjadi kunci di bab-bab selanjutnya. Pandangan masa depan menunjukkan bahwa meski Muzan sangat kuat, ia tidak memiliki sesuatu yang dimiliki manusia: kemampuan untuk mewariskan semangat dan bekerja sebagai satu kesatuan yang utuh. Pertempuran masih jauh dari kata usai, namun cahaya fajar kini terasa lebih dekat dari sebelumnya bagi para pembaca setia manga kimetsu no yaiba 190.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow