Cara yang Salah dalam Melakukan Healing dan Dampaknya
Istilah healing kini telah bergeser dari makna klinis aslinya menjadi sebuah tren gaya hidup yang masif di media sosial. Banyak orang menganggap bahwa pergi berlibur ke tempat eksotis, membeli barang mewah, atau sekadar menjauh dari pekerjaan adalah bentuk pemulihan diri yang efektif. Namun, kenyataannya seringkali berbanding terbalik. Memahami cara yang salah dalam melakukan healing sangat penting agar upaya kita untuk memperbaiki kesehatan mental tidak berakhir menjadi beban baru yang justru memperparah kondisi emosional kita di masa depan.
Seringkali, apa yang kita sebut sebagai aktivitas penyembuhan hanyalah bentuk distraksi sesaat. Google Trends menunjukkan peningkatan pencarian kata kunci ini setiap akhir pekan, menandakan bahwa masyarakat mulai mencari pelarian dari rutinitas. Namun, pemulihan yang sejati melibatkan proses internal yang seringkali tidak nyaman, bukan sekadar mengganti latar belakang pemandangan di foto Instagram kita. Tanpa pemahaman mendalam, kita berisiko terjebak dalam siklus kelelahan yang tidak pernah berakhir karena akar masalahnya tidak pernah disentuh.
Mengenal Fenomena Distraksi Berkedok Self-Care
Salah satu kesalahan paling umum adalah menyamakan self-care instan dengan proses penyembuhan trauma atau kelelahan mental yang kronis. Saat seseorang merasa stres, reaksi spontan yang muncul biasanya adalah mencari kenyamanan cepat (gratifikasi instan). Ini bisa berupa retail therapy atau belanja impulsif yang memberikan lonjakan dopamin sementara. Masalahnya, ketika saldo rekening menurun dan barang yang dibeli kehilangan daya tariknya, perasaan hampa dan stres tersebut akan kembali muncul dengan intensitas yang lebih kuat.

Dalam psikologi, ini sering disebut sebagai mekanisme pertahanan diri berupa avoidance atau penghindaran. Kita melarikan diri dari emosi negatif dengan menimbunnya di bawah tumpukan aktivitas menyenangkan yang dangkal. Padahal, emosi yang ditekan tidak akan pernah hilang; mereka akan terakumulasi dan meledak di waktu yang tidak tepat. Oleh karena itu, penting untuk membedakan mana yang merupakan kebutuhan istirahat dan mana yang merupakan upaya melarikan diri dari kenyataan pahit yang harus dihadapi.
Bahaya Self-Diagnosis Melalui Konten Media Sosial
Di era algoritma saat ini, banyak orang melakukan cara yang salah dalam melakukan healing dengan cara mendiagnosis diri sendiri berdasarkan video singkat di TikTok atau Instagram. Mereka melihat daftar gejala gangguan kecemasan atau depresi, lalu mulai melabeli diri sendiri tanpa konsultasi dengan profesional. Langkah ini sangat berisiko karena label yang salah akan mengarah pada metode penanganan yang salah pula. Menyerap informasi tanpa validasi medis hanya akan menciptakan kecemasan baru yang tidak perlu.
Perbandingan Antara Healing Sejati dan Pelarian Sementara
Untuk memahami lebih jelas mengenai perbedaan antara proses pemulihan yang sehat dengan yang destruktif, perhatikan tabel perbandingan di bawah ini:
| Aspek Perbandingan | Healing Sejati (Kesehatan Mental) | Pelarian Sementara (Wrong Way) |
|---|---|---|
| Tujuan Utama | Menghadapi dan memproses emosi negatif | Menekan atau menghindari emosi negatif |
| Biaya | Investasi waktu dan energi mental | Seringkali melibatkan biaya finansial tinggi |
| Hasil Jangka Panjang | Resiliensi dan ketenangan batin | Ketergantungan pada stimulasi eksternal |
| Metode | Terapi, meditasi, introspeksi diri | Liburan impulsif, belanja, konsumsi berlebih |
| Fokus | Penyelesaian akar masalah | Penyembuhan gejala permukaan saja |
Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa cara yang salah dalam melakukan healing cenderung bersifat reaktif dan eksternal. Jika Anda hanya merasa tenang saat berada di hotel mewah tetapi langsung merasa cemas saat kembali ke rumah, maka itu bukanlah healing, melainkan sekadar jeda waktu yang tidak menyentuh inti permasalahan psikologis Anda.
Mengapa Liburan Terus-Menerus Bukan Solusi Utama
Banyak yang beranggapan bahwa tiket pesawat adalah resep terbaik untuk kesehatan mental. Namun, seorang psikolog ternama pernah menyatakan bahwa "Ke mana pun Anda pergi, Anda membawa diri Anda sendiri." Artinya, jika pikiran Anda masih dipenuhi dengan konflik yang belum terselesaikan, pemandangan pantai yang indah sekalipun tidak akan bisa memberikan ketenangan sejati. Liburan memang penting untuk menyegarkan pikiran, tetapi tidak bisa dijadikan sebagai instrumen tunggal penyembuhan trauma atau kelelahan kerja (burnout).

Strategi coping yang sehat seharusnya bersifat restoratif. Jika setelah liburan Anda merasa butuh liburan lagi untuk memulihkan diri dari lelahnya perjalanan, itu adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang salah dalam cara Anda mengatur energi. Proses pemulihan harusnya terjadi di dalam keseharian, bukan sesuatu yang hanya terjadi dua kali dalam setahun saat cuti panjang tiba.
Peran Regulasi Emosi dalam Proses Pemulihan
Kemampuan untuk meregulasi emosi adalah kunci utama dalam menghindari cara yang salah dalam melakukan healing. Regulasi emosi berarti kemampuan seseorang untuk tetap sadar (mindful) terhadap apa yang ia rasakan tanpa harus segera menghakimi atau menyingkirkannya. Alih-alih langsung pergi ke mal saat merasa sedih, cobalah untuk duduk diam dan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang sebenarnya sedang saya rasakan saat ini?" Jawaban jujur dari pertanyaan ini adalah langkah awal menuju pemulihan yang autentik.
"Penyembuhan bukanlah tentang menjadi orang yang berbeda, tetapi tentang membiarkan diri Anda menjadi siapa Anda sebenarnya dengan segala luka yang telah terobati melalui kesadaran."
Mengutip prinsip-prinsip dalam Cognitive Behavioral Therapy (CBT), mengubah pola pikir adalah fondasi untuk mengubah perasaan. Jika pola pikir kita masih toksik terhadap diri sendiri, maka segala bentuk aktivitas luar ruangan tidak akan memberikan dampak permanen bagi kesejahteraan emosional kita.
Konsekuensi Psikologis dari Kesalahan Coping Mechanism
Ketika seseorang terus-menerus menerapkan cara yang salah dalam melakukan healing, akan terjadi fenomena yang disebut sebagai emotional debt atau hutang emosional. Emosi yang tidak diproses akan menumpuk dan bermanifestasi dalam bentuk gejala fisik (psikosomatis) seperti sakit kepala kronis, gangguan pencernaan, hingga insomnia. Secara mental, seseorang akan menjadi lebih sensitif, mudah marah, dan kehilangan motivasi hidup karena ia merasa bahwa segala upaya yang dilakukan untuk merasa lebih baik tidak pernah berhasil.

Selain itu, ada risiko berkembangnya perilaku adiktif. Pelarian yang awalnya berupa belanja atau makan berlebihan bisa berubah menjadi ketergantungan serius. Inilah alasan mengapa literasi kesehatan mental sangat dibutuhkan agar masyarakat tidak terjebak dalam mitos-mitos penyembuhan yang menyesatkan dan merugikan diri sendiri secara finansial maupun psikologis.
Membangun Pondasi Pemulihan Diri yang Otentik
Langkah terbaik untuk keluar dari siklus kesalahan ini adalah dengan mulai membangun rutinitas kesehatan mental di dalam keseharian Anda. Healing bukanlah sebuah destinasi yang bisa dicapai dengan memesan tiket perjalanan, melainkan sebuah praktik harian yang melibatkan kejujuran emosional, batasan (boundaries) yang sehat dengan orang lain, serta keberanian untuk mencari bantuan profesional jika diperlukan. Jangan biarkan tren media sosial mendikte bagaimana Anda harus merawat diri sendiri.
Vonis akhirnya adalah, sadarilah bahwa cara yang salah dalam melakukan healing biasanya menawarkan kenyamanan instan namun meninggalkan kekosongan jangka panjang. Mulailah dengan hal-hal kecil seperti memperbaiki pola tidur, melakukan meditasi rutin, atau menulis jurnal untuk mengekspresikan perasaan. Pemulihan yang sejati mungkin terasa lambat dan terkadang menyakitkan, namun itulah satu-satunya jalan menuju ketenangan batin yang bertahan lama dan berkualitas tinggi dalam hidup Anda.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow